Generasi Micin Berburu Budaya Suku Sasak

Generasi Micin Berburu Budaya Suku Sasak

            Assallamualaikum batur-batur senamian…

Salam kenal tipaq pelinggih senamian batur-batur Suku Sasak dan seluruhnya, nama tyang Verawati Ningsih. Hari ini rencananya saya dan teman-teman akan mengunjungi salah satu pedesan di Pulau Lombok yang saya dengar masih cukup kental adat istiadatnya, Tepatnya di Desa Selak Kec. Narmada pada hari  Minggu tanggal 20 Oktober 2019. Singkat cerita, saya dan teman-teman mendatangi kediamannya pak Anas di Desa Selak, sekitar jam 11.30. Beliau adalah salah satu tokoh kebudayaan yang bergelut dibidang Takepan. Pak Anas sendiri belajar tentang kebudayaan tersebut tidak cukup lama, sekitar 2 tahun lalu. Takepan Sasak sendiri adalah naskah kuno yang ditulis diatas daun lontar dirangkai menjadi satu kesatuan dengan cara diikat ditengah, umumnya menggunakan bahasa Kawi dan bahasa Sasak. Untuk memperjelas huruf atau bacaannya di Takepan tersebut, pada masa itu minyak kelapa digunakan sebagai alat atau media untuk mengolesinya agar tulisanya jelas dan bisa dibaca, tutur beliau. Beliau juga menjelaskan bahwa Takepan menceritakan tentang hakikat struktur kebudayaan masyarakat Suku Sasak sendiri, ada pula dikatakan “Bang Bari” dan “Makrum”.


            Tidak begitu banyak informasi yang bisa kami gali pada beliau, tentang kebudayaan Takepan tersebut. Sehingga beliau mengajak kami untuk bertemu dengan Gurunya di Desa Bawun Aik Nyet Kec. Narmada. Namanya pak Sukardi, beliau adalah tokoh kebudayaan yang bergelut dibidang Takepan dan Wayang. Beliau mempelajari takepan sendiri sekitar tahun 1998 dan mempunyai komunitas kebudayaan yang bernama “Jati Sware”. Sejak kecil beliau sudah mempelajari wayang, dimana kata beliau selepas pulang ngaji ia sering mengambil sandal dan “telekung” atau mukenah untuk dijadikan sebagai media ia belajar pewayangan. Beliau budayawan yang bergelut sebagai Pewayang, Posan, Pembayun. Ada tiga hal yang bisa mengangkat nama suatu Negara atau kepulauan suatu Daerah, yaitu Agama, Budaya dan Adat Istiadat. Dan hal itu erat kaitanya agar kita terus bisa menjaga dan mempertahankan ketiganya, terutama kebudayan, Oleh sebab itulah beliau hingga kini masih mencintai dan melestarikan kebudayan Suku Sasak (tuturnya saat kami bertanya kepadanya, mengapa ia masih mempertahankan kebudayaan tersebut?). Bahkan beliau juga tak sungkan untuk mengajari dan berbagi ilmunya dengan siapaun yang mau belajar padanya. karena kalo bukan kita siapa lagi, kita tentu tidak ingin menjadi generasi penerus yang lupa dan tidak tahu asal usul dan adat istiadat nenek moyangnya bukan!, tuturnya.
Beliau sendiri menjelaskan kepada kami bahwa takepan itu berbeda-beda, tergantung dari pemakaian upacara adatnya. Seperti kebudayan “Ngurisan” atau Aqikhah, “Nyunatan” atau Khitan, “Merariq” atau kawin, dan “Presean”, sbg.
“Pembayun” berasal dari kata “Pamyun”. “Pem” artinya dipercaya dan “Yun” artinya didepan, jadi pembayun artinya “dipercaya didepan”. Pamyun sendiri, adalah orang yang membaca Takepan tersebut. Adapun kata pembuka disebut dengan “Tembang”. “Tembang” sendiri terdiri dari tujuh jenis, yaitu Asmarandane, Sinom, Ganggang, Pangku, Kumambang, Dandang, dan Jinanti. Ujar beliau, biasanya Tembang atau pembuka selalu diawali dengan menyebut Bissmillaah dan menyerukan asma Allah. Hal tersebut juga sebagai cerminan bahwasanya Suku Sasak hampir dibilang Mayoritas beragama Islam. Secara khusus Pak Sukardi menjelaskan kita tentang “Rengganis” atau Pernikahan yang biasanya Tembang yang digunakan adalah “Tembang Asmarandane”.
Takepan sendiri dilaksanakan setelah akad antara mempelai Pria dan Wanita, bisa dikatakan saat proses “Begawe” atau acara pesta pernikahan biasa disebut “Sorong Serah”. Saat Proses Takepan dilaksankan ada beberapa ritual atau bahan yang dipersiapkan sebelum Takepan dimulai oleh “Pembayun” seperti diantaranya, kain 7 lapis khas Sasak, Ceraken, Serompong, dan memiliki jumlah yang berbeda-beda tergantung dari kastanya.
Matur Tampiasih Tipaq Pelungguh SenamianJ Sampai bertemu lagi di petualangan selanjutnya, jangan lupa komen dan share sahabatku
Wassallamualaikum….

Comments

  1. Sangat bermanfaat, semangat dan terus berkarya 🌹

    ReplyDelete
  2. Perjalanan yang cukup jauh, berjelajah demi mencari ilmu dan budaya asli kita (Lombok). Tidak banyak anak muda atau generasi micin yg gemar untuk mencari tau sendiri dengan beraneka ragam yg mereka miliki sendiri karna kecanggihan teknologi yg mudah diakses.
    Luar biasa, semangat buat penulis. Ditunggu tulisan selanjutnya

    ReplyDelete
  3. good job my sister. tunjukkan pada dunia bahwa keragaman budaya kita bukan hanya sebatas cerita belaka. galilah semua sejarah yg hampir dilupakan dan tantanganmu untuk menhidupkan budaya itu kembali.

    ReplyDelete
  4. Dengan tulisan ini jadi bertambah wawasan saya ttg kbudayaan sasak

    ReplyDelete

Post a Comment